Vasham Bangun Model Wirausaha Sosial Untuk Mencapai Swasembada Jagung

0
139

BeritaKawasan.com – Industri agribisnis di tahun 2017 tampaknya masih penuh dengan tantangan yang perlu mendapat perhatian dan dukungan pemerintah. Apalagi bila dikaitkan dengan program swasembada komoditi utama yaitu padi, jagung dan kedele. Hal ini terungkap dalam Seminar Nasional Agribisnis Outlook 2017 yang diselenggarakan tanggal 15 Desember 2016 di Jakarta.

Untuk komoditi padi, para pakar merasa optimis program swasembada padi  dapat dicapai dibandingkan dua komoditi lainnya. Kementerian Pertanian telah mulai membatasi impor jagung sejak pertengahan tahun 2015 sehingga  industri pakan ternak yang bahan utamanya adalah jagung harus bergantung pada produksi lokal. Di lain sisi, pasokan lokal masih tidak bisa memenuhi kebutuhan jagung secara berkesinambungan  bagi industri pakan ternak yang mencapai sekitar 8 juta ton per tahun.

“Pemerintah mengantisipasi hal ini dengan meningkatkan fasilitas sarana produksi jagung berupa benih, pupuk dan pestisida untuk lahan seluas 3 juta hektar, meningkat 10 kali dibanding luasan lahan yang difasilitasi di tahun 2016,” papar Dr. Ir. Dwi Iswari, M. Sc, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan yang mewakili Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.

Keberlangsungan industri pakan ternak ini sangat penting mengingat unggas adalah sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Saat ini 64 persen kebutuhan protein hewani dipenuhi dari unggas yang konsumsi per kapita per tahun telah mencapai sekitar 11 kilogram pada tahun 2015, kata Arief Daryanto, Direktur Program Pasca Sarjana Manajemen dan Bisnis, Institut Pertanian Bogor.

Irvan Kolonas, CEO dan Founder PT Vasham Kosa Sejahtera, menjelaskan model kemitraan bisnis jagung yang dilakukannya di Lampung dengan menggunakan konsep wirausaha sosial untuk mendukung program swasembada yang dicanangkan pemerintah. “Kami melakukan kemitraan petani jagung dari ujung ke ujung, mulai dari memberi akses pada benih, pelatihan, pembiayaan, sampai kepada penjemputan jagung petani dengan segala tingkat kadar air untuk dikeringkan di fasilitas pengeringan jagung (corn dryer) milik Vasham,” papar Irvan. Konsep wirausaha sosial ini memadukan konsep bisnis yang dilakukan perusahaan dengan misi sosial, dalam hal ini profit yang diperoleh akan diinvestasikan untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan dampak sosial.

Fasilitas pengering jagung saat ini masih sangat sedikit jumlahnya di Indonesia, padahal fasilitas pasca panen ini sangat penting untuk memastikan bahwa hasil panen jagung rakyat dapat diserap oleh industri pakan ternak. Tanpa fasilitas pengering yang memadai, petani jagung tidak dapat menikmati hasil panennya. Karena itu, Irvan mengajak industri pakan agar rela memangkas keuntungannya untuk membangun fasilitas pasca panen dan membina petani jagung. Pada bulan Februari 2017, bersamaan dengan panen raya jagung di Lampung Selatan, Vasham akan meresmikan fasilitas corn dryer terbesar di Indonesia dengan kapasitas 400 ton per hari untuk jagung basah dengan kadar air 35 persen.

Program swasembada jagung juga membutuhkan pendukung lain seperti fasilitas irigasi dan asuransi panen seperti yang telah dinikmati oleh komoditi padi. Pertanian jagung di Indonesia umumnya dilakukan di lahan kering tadah air sehingga panen sangat bergantung pada musim dan terjadi serentak di seluruh Indonesia. Kerena minimnya jumlah corn dryer, hasil panen yang serentak ini ada kemungkinan tidak terserap semuanya. Dengan adanya irigasi, petani dapat menanam dan panen sepanjang tahun tanpa tergantung musim.

Pada akhirnya, model kemitraan dengan petani seperti yang digagas oleh Vasham ini diharapkan dapat membantu negara membangun dan menyejahterakan petani jagung.

Baca Juga Artikel ini :

  1. IFEX Kembali Promosikan Rotan ke Pasar Internasiona
  2. The Big Start Melahirkan Enterpreneur Baru
  3. Menghindari Investasi Bodong

LEAVE A REPLY