HOTs: Idealisme Mencerdaskan, Bukan Sekedar Mengejar Nilai

0
168

HOTs: Idealisme Mencerdaskan, Bukan Sekedar Mengejar Nilai

Maraknya lembaga bimbingan belajar yang seolah menjadi kebutuhan wajib di Indonesia menghadirkan sebuah tanda tanya besar, ada apa dengan institusi pendidikan formal kita? Setelah sekitar 5 hingga 7 jam anak-anak kita menduduki bangku sekolah untuk diajar para guru mengapa masih dirasa belum cukup? Jawaban dari pertanyaan ini merupakan refleksi dari wajah suram pendidikan formal Negara ini. Berani atau tidak untuk mengakui, kualitas pengajar dan sarana prasarana KBM di sekolah masih jauh dari yang dibutuhkanuntukmenghasilkananakdidikcerdasdanberkaraktermandiri, kreatifdanmoralitastinggisebagai modal menjadi pribadi tangguh dan berguna. Data UNESCO (2000) tentangperingkatIndeksPengembanganManusia (Human Development Index), yaitukomposisidariperingkatpencapaianpendidikan, kesehatandanpenghasilan per kepalamenunjukkandiantara 174 negara di dunia, Indonesia menempatiurutan ke-109. Disampingkenyataanmemprihatinkandiatas, paradigmaberpikir para orang tuamaupuntenagapengajar juga masihbanyak yang terjebakpadastereotipkelirubahwatolakukurkecerdasananakhanyalahberdasarpadanilaimatapelajaranMatematikaataueksakta lain.

Sehinggaanakdidoktrinuntukmenjadiahlidibidangeksaktasebagaikuncimenujukesuksesandimasadepan. Pemiliksebuahbimbel, Susi Sumarno yang ditemuidikantoroperasionalbimbelmiliknyadikawasanrukoManyar Blok A No.10, PIK, Jakarta Utara mengemukakanhalini. ‘Jika saja lembaga pendidikan formal kita sukses mengembangkan dan menjalankan fungsinya dengan baik dan benar, maka seharusnya anak kita tidak perlu lagi menambah jam belajardiluarsekolah’. Pendidikan pun selayaknyaberjalandemokratisdanopen-mindeduntukmemfasilitasidanmengawaltumbuhkembangsesuaiminatdanbakatanak, bukanobsesi orang tua.

‘Pendidikandasardandiniitukitadapatkandarikeluarga. Dari orang tuadansaudaraterdekatkita. Karenaitusangatpentingbagi orang tuauntukmemahaminilaipendidikanbagianak-anaknya. ‘Jikadari orang tuasudahsalahmendoktrinbahwaanakharusambiljurusan IPA misalnya, untukmenjadi orang suksespadahalbakatdanminatanaknyaadapadamusikinikeliru’.Berangkatdarikepedulianuntukikutandilmencerdaskangenerasipenerus, makapadatanggal 18 Januari 2012 iamendirikansebuahlembagabimbelbernama HOTs (Higher Order Thinking skills) yang mengusungidealismeuntukmencerdaskansiswadanmembantumenemukantalentamereka yang mungkinmasihtersembunyi.

‘Banyak orang tua yang menginginkananaknyapintar, dalamartianmendapatjuaraataunilaibagusdenganmendaftarkanmerekakebimbel. Bahkanketikabarusebulanberjalan, suksesatautidaknyasebuahbimbellangsungdiukurdariadaatautidaknyapeningkatanhasilbelajaranak di sekolah’.Padahalharusnyadisadaribahwaanakadalahseorangmanusiabukanbenda yang bisaberubahsemudahkitamembaliktelapaktangan. Diakuinyakualitasbimbelkebanyakanmasihsetalitigauangdenganbangkupendidikan formal. ‘Ada bimbel yang mungkinsudahberjalansampaisatudasawarsa, merekahanyamengulang-ulangsoal yang diberikan’. Hal inimenurutnyabisamendorongbaik guru maupunsiswahanyamenghapalkansoaldanjawabantersebut. Masalahbarutimbulketikasiswamengikutilombatingkatinternasional, belumtentubisamenjawabkarenaselamainiilmu yangdidapatdenganhapalan, bukandenganpemahamandanpenalaran.

Di HOTssistempembelajaran yang diterapkandiakuisangatberbeda. Sebagaicontohketikaadasatusoaldiberikan, merekamenstimulussiswauntukkritisbertanyamengapamunculsoalsepertiitu. Bahkanketikadiajarkansaturumusmerekatidaksertamertahanyadimintamenghapaluntukmemecahkansoal.‘Kita juga memisahkansiswaberdasarkan level kelasmereka. Karenaadabimbel yang dalamsatukelasterdiridaribeberapaanakdari level kelasberbedadiajarsatu guru yang sama’. Hal inimenurutnyasudahmencederaiprofesionalitaskegiatanbelajardanmengajarkarenatidakfokus.

HOTsdikatakanselalumenanamkanpadasiswanyaagar ada rasa keingintahuan dari mana asalnya suatu rumus bisa tercetuskan. Dengan begini siswa punya ketertarikan untuk memahami dan mencari jawabanya terdorong oleh rasa penasaran mereka.‘Kami fokuspadapendidikankarakteranak’, tandasnya lagi. Diharapkan, jikasudahterbentukcintapengetahuandankemandiriannotabenepeningkatannilaidengansendirinyaakanmengikuti.Kepadaseluruhstafpengajarditanamkanidealismeuntukmengajardenganhati. Sehingga para siswadiharapkanbisanyaman.

‘Kalauthey are not happy to learn, kitamaupushsepertiapapun juga susah’. Susijuga menyayangkanadanyapengajar yang tidaksesuaidenganbidangnyaataupunmenjalaniprofesiitusemata demi mendapatpenghasilan. ‘Seluruhstafpengajar yang sayarekrutmemilikisertifikat guru danditempatkansesuaibidangnya. Sayabahkanmengesampingkanhitunganbiayagajitinggiketikamerekrutmerekakarenasayamenomorsatukankualitasbukan profit’.

Padaakhirnya, kitamemangtidakbisadiamsajadanmengabaikan alarm yang berbunyisebagaitandagawatdarurat yang terjadidiranahpendidikannasional. Seluruhelemenharusbergerakdanmengambilperanuntukmenyelamatkangenerasipenerusdarikebodohan, degradasi moral danstereotipkeliruakandefinisikesuksesandalamhidup.

 

LEAVE A REPLY