Mengapa Kita Sering Gelisah?

0
200
sering gelisah

BeritaKawasan.com – Menjadi seorang karyawan, baik di kantor, pabrik maupun di tempat kerja lainnya, kadang tidak memberi celah bagi kita untuk sejenak istirahat ataupun berkumpul bersama keluarga tercinta. Alih-alih bisa bersua bersama mereka dengan suasana yang intim, justru yang kita rasakan hanya sebatas bayang-bayang saja yang tentunya tidak  pernah terwujud dalam kenyataan. Kalaupun ada waktu bisa berkumpul bersama mereka, itu hanya sebantar saja. Selebihnya, kerja, kerja dan kerja. Hemm, tentu hal seperti ini akan membuat hidup kita semakin diluputi rasa keterketekanan dan kegelisahan yang maha hebat alias jarang bahagia.

Tentunya, padatnya rutinitas kerja yang kita lakukan setiap hari bukan malah membuat bahagia, justru akan membuat kita bosan dengan aktifitas yang itu itu saja. Kalau sudah bosan, kita perlu waktu untuk piknik atau berlibur di sebuah tempat yang nyaman yang memberikan kita ketenangan. Dengan kata lain, me-refresh pikiran kita yang sebelumnya diliputi rasa ketidaktenangan menjadi tenang dan nyaman.  Jika ketenangan itu sudah singgah ke dalam hati dan pikiran kita,  maka untuk memulai aktifitas pun menjadi lebih semangat dan bisa menjadi lebih produktif lagi.

Namun, yang sering kita rasakan, setelah kita berlibur, kegelisahan itu kadang muncul lagi dan sulit untuk kita hilangkan. Seolah, rasa gelisah itu selalu membayang-bayangi diri kita tanpa pernah berhenti walau beberapa menit saja. Tentu, ada beberapa sebab di balik itu. Di anatarnya, mungkin karena kita kurang beribadah. Hubungan kita dengan Sang Pencipta terbilang minim. Dan tentu masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang bikin hati  dan pikiran kita sering gelisah.

Padatnya aktifitas, membuat orang malas untuk sejenak menyisihkan waktunya demi membangun hubungan antara Tuhan dengan dirinya. Karena kita tahu, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini berdasarkan kuasa dan kehendak-Nya. Sebagai ciptaannya, tiada yang perlu kita lakukan, kecuali selalu membangun hubungan spritulitas dengan-Nya di tengah kesibukan. Yakinlah, bila hubungan spritulitas itu selalu kita bangun dan jalankan di setiap harinya, maka Tuhan akan menaburkan benih-benih ketenangan dan akan membuang jauh-jauh kegelisahan yang senantiasa menghantui diri kita. Bahkan, Dia akan selalu mengiringi setiap langkah kita, mempermudah jalan hidup kita, meski di luar sana banyak sekali aral yang melintang.

Dan sebaliknya, bila jiwa kita nihil dari nilai-nilai spiritual, maka Tuhan pun enggan menyapa dan membantu kita dan bahkan Dia akan membiarkan kita dalam kesulitan dan kegelisahan. Hal itu terjadi karena kita tidak pernah bercengkrama (baca: berdoa) dengan Tuhan dalam balutan ibadah. Dengan kata lain, kita terlalu congkak atas apa yang telah kita miliki, sehingga kita tidak lagi membutuhkan-Nya sebagai sandaran hidup kita. Padahal, harta dan kekayaan bukanlah barometer ketenangan jiwa manusia. Buktinya, banyak orang kaya, yang segala-galanya ia miliki, namun untuk urusan hati tak pernah terselesaikan. Mereka dirundung kegelisahan, meski kekayaan yang ia punya berlimpah-limpah. Namun, kurangnya membangun hubungan antara dirinya dan Tuhan-Nya, kekayaan tadi hanya sebatas benda mati yang sama sekali tidak memberi kebahagiaan hidup, justru kegelisahan selalu singgah di ke dalaman hatinya.

Maka itu, sesibuk apapun, dan sepadat apapun jam kerja kita, luangkan sejenak untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Karena itu lebih penting daripada sekedar bertemu dengan keluarga dan kerabat. Di dalam kekuasaan-Nyalah bahagia atau tidak bahagia hidup kita ditentukan. Tanpa pernah membangun hubungan dengan-Nya, berarti kita telah mempersilakan kegelisahan itu untuk singgah di hati kita.

 

 

LEAVE A REPLY